Thank you for your interest!

Add free and premium widgets by Addwater Agency to your Tumblelog!


To hide the widget button after installing the theme:

  1. Visit your Tumblr blog's customization page (typically found at http://www.tumblr.com/customize).
  2. Click on Appearance.
  3. Click Hide Widget Button.
  4. Click on Save+Close.

For more information visit our How-To's page.

Questions? Visit us at tumblr.addwater.com

[close this window]

Jika Aku Menjadi: Sepenggal Kisah dari Kaki Semeru

Kali ini Semeru menjadi saksi bisu perjalanan dan pelajaran yang aku dapatkan. Ketabahan, keikhlasan, kemauan, kerja keras dan harapan adalah kata kunci bagi kehidupan. Susah, mudah, sedih dan senang hanyalah sebuah proses.Yang paling penting adalah mampukah kita terus bertahan?

Perjalanan ku berawal di Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur. Hati ku terus berdegup kencang membayangkan apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus aku lakukan. Tapi kekhawatiran ku menghilang saat aku menginjakkan kaki di rumah mungil di kaki Gunung Semeru walaupun kali itu hujan terus membasahi bumi dan hanya cahaya dari sebuah senter yang menemaniku. Dingin yang ku rasakan sekejap menghilang kala pertemuan pertama dengan Bapak Sukip (65 tahun) dan Ibu Poninten (60 tahun). Sambutan sederhana; senyum dan kesediaan keluarga Bapak Sukip untuk membantu ku belajar dan mengikuti pekerjaannya, ditutup dengan obrolan tentang keluarga dan air manis hangat. Bapak Sukip dilahirkan di Ponorogo  dan besar di Pronojiwo, Lumajang. Sedangkan Ibu Poninten lahir dan besar di Pronojiwo. Keduanya bertemu saat ngarit (mencari ramban, makanan untuk kambing) di hutan. Kemudian mereka menikah tanpa mas kawin dan memiliki 6 anak dan 1 diantaranya perempuan. Beberapa tahun lalu keluarga Bapak Sukip sempat mengadu nasib di Lampung dengan berbekal kenekatan. Tapi berakhir dengan kembali ke Pronojiwp, Lumajang karena tingginya kriminalitas di Lampung. Dan tetap saja, Bapak Sukip kambali dengan tangan kosong. Bahkan Ia tidak memiliki tempat tinggal. Atas kesepakatan warga Bapak Sukip diberikan sebidang tanah hasil demo rakyat setempat kepada PERHUTANI untuk tinggal. Kemudian, bersama dengan anak-anaknya menganyam bilik (gedek), bapak juga berjualan kayu bakar yang dicarinya di hutan dan hasilnya digunakan untuk mengganti ramban dengan genteng secara bertahap.

Malam semakin larut. Saatnya kami tidur karena esok pagi aku akan ikut ibu mencari pakis di hutan. Kemudian Bapak mematikan lampu satu-satunya di rumah. Ya, hanya 1 lampu yang mengisi 3 buah rumah lampu karena tidak mampu untuk membeli lampu lagi. Bapak tidur di dipan tanpa kasur di ruang tamu karena aku tidur bersama Ibu dan Sumiyati, anak ke-6, di kamar tidur. Jangan membayangkan tentang kamar yang luas dan kasur empuk. Yang aku sebut kamar hanyalah ruangan berbatas bilik dengan kain tipis sebagai pintu.

Pagi. Sayup-sayup suara dari radio tua bapak membangunkan ku. Radio tua seharga Rp 125.000 dan dibayar setiap sabtu Rp 10.000 ini adalah satu-satunya elektonik yang bapak punya. Aku dan ibu bersiap-siap mencari pakis di hutan sementara anak-anak bersiap ke sekolah. Perjalanan yang akan aku tempuh terbilang dekat. Biasanya perjalanan mencari pakis memakan waktu 4 jam untuk pulang pergi. Sedangkan rebung 8 jam perjalanan pulang pergi, melintasi 3 sungai dan entahlah berapa bukit. Tapi kali ini ibu memilih jarak yang dekat karena kasihan melihat ku yang tidak biasa berjalan jauh. Tiga bukit telah aku lewati tapi tempat ibu mencari pakis masih jauh. Ternyata ini rasanya bekerja demi bertahan hidup. Karena tidak sanggup untuk membeli lauk, ibu harus menempuh perjalanan jauh ke dalam hutan. Padahal hasil dari berjualan pakis 2 hari sekali hanya Rp 6.000 (1 unting/ ikat = Rp 300, 20 unting/ ikat = Rp 6.000) dan tidak bisa menutupi kehidupan sehari-hari. Untuk berhutang pun ibu takut karena ibu tidak punya apa-apa untuk membayarnya. Akhirnya aku sampai di tempat pakis. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku tahu tanaman pakis. Aku belajar cara memilih pakis yang muda dan tua. Kemudian aku berpisah membantu ibu agar pekerjaannya cepat selesai. Tapi niat baik ku tidak berjalan lancar karena saat mencari pakis kaki ku digigit pacet, terkena duri-duri tajam, dan bertemu cacing. Aku memang payah. Setelah lama aku bertemu ibu kembali, tapi hasil dari mencari pakis hari ini hanya 4 unting/ ikat, sangat sedikit.

Sekarang aku akan membantu bapak membuat ruji yang biasa digunakan untuk membuat sarang burung. Bambu untuk membuat ruji bapak ambil di hutan kemudian dibelah menggunakan sembilu. Sembilu yang begitu besar untuk membelah bambu menjadi potongan yang tipis-tipis ini sangat membuat ku takut. Bapak sangat sabar mengajari ku membuat ruji, Ia juga tidak marah ketika aku memotong tidak sama rata. Setelah bambu dipotong setebal 3 mm x 3 mm, dijemur hingga kering sekitar 3 hari, diserut baru kemudian dapat dijual ke toko. Untuk 1000 ruji yang telah diserut dihargai Rp 6.000 tapi dalam sebulan tidak pasti bapak berhasil menjual ruji. Sedangkan uang dari menjual kayu bakar Rp 12.500 untuk satu pikulan yang kira-kira beratnya 60 Kg. Dan kambing yang ada di rumah bapak juga bukan miliknya. Tapi milik tetangga, bapak hanya bertugas untuk memberinya makan dan jika kambing tersebut memiliki anak barulah bapak mendapatkan keuntungan bagi hasil. Tapi sampai sekarang bapak belum pernah merasakan keuntungan dari kambing tersebut. Sungguh berat hidup bapak dan ibu. Apalagi di umur yang tidak muda masih harus bekerja keras demi kelangsungan hidup dan anak-anaknya. Tapi bapak dan ibu tidak pernah mengeluh. Prinsip mereka, “jika mau bertahan hidup harus kerja keras”.

Mereka bukan tak mau kerja lebih ringan, bukan tak mau banyak uang. Tapi mereka sudah kerja sangat keras tapi untuk kehidupan sehari-hari saja tidak cukup. Coba bayangkan kehidupan ku sekarang yang berkecukupan di segala hal. Rumah tak lagi takut bocor, makan enak sesuai selera, pendidikan terjamin. Aku teringat ayah mama ku di rumah dan membayangkan mereka sedang bekerja demi anak-anaknya. Pasti tidaklah mudah perkerjaan mereka dan ya aku tidak pernah membantu mereka. Apa yang aku nikmati sekarang adalah hasil jerih payah orang tua ku. Aku menangis, sadar bahwa selama ini aku kurang bersyukur dan kurang menghargai segala ‘kenikmatan’ yang telah aku dapatkan.

Kali ini aku akan menemani Boadi (5 SD) dan Sumiyati (2 SD) belajar untuk ujian esok hari. Mereka adalah anak ke-5 dan ke-6, sedangkan kakak-kakak mereka telah menikah dan tidak lagi tinggal di rumah. Mereka sangat senang aku temani belajar, karena selama ini tidak ada yang mengajari. Apalagi untuk bahasa inggris, saat aku ajari berhitung, warna, nama buah, perlengkapan rumah, mereka sangat bersemangat! Bagi mereka bahasa inggris adalah pelajaran yang sangat sulit. Menghitung 1-10 dengan bahasa inggris pun mereka tidak bisa. Sebenarnya Boadi termasuk anak yang berprestasi di sekolah. Peringkat 2, ketua kelas dan beberapa kali ditawarkan untuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba. Tapi sayang sekali, karena ibu dan bapak tidak memiliki uang untuk membuat surat nikah hingga kini Boadi tidak punya akte kelahiran dan tidak bisa ikut mewakili sekolahnya. Mereka bisa bersekolah pun karena pendidikan tingkat SD gratis. Dan perlengkapan sekolah yang dimiliki juga pemberian dari sekolah setiap 2 tahun, tapi sayang sekali 2 tahun ini sekolah tidak memberi seragam baru. Kaus kaki, sepatu dan tas satu-satunya milik Boadi telah robek. Jika ditanyakan tentang cita-cita mereka hanya tersenyum. Mereka takut untuk bermimpi karena mereka berkekurangan. Untuk melanjutkan ke tingkat SMP saja ibu tidak mampu. Padahal ibu sebenarnya ingin sekali anak-anaknya kelak berubah nasib menjadi tentara atau bekerja di kantor. Tidak lagi merasakan kehidupan yang susah seperti sekarang.

Aku membantu ibu memasak untuk makan malam. Nasi tiwul dan tumis pakis adalah menu setiap harinya. Ini adalah pertama kalinya aku memasak tumis pakis dan akan memakan nasi tiwul dan pakis. Aku mual di suapan pertama. Rasa yang sangat asing ditenggorokan. Aku melihat bapak, ibu, Boadi dan Sumi sangat lahap sedangkan aku menahan mual. Aku meminta maaf kepada ibu karena aku tidak makan dengan lahap. Aku sedih makanan yang aku cari bersama ibu di hutan, menempuh pejalanan panjang tidak bisa aku telan. Maafkan aku ibu. Bayangkan saat ibu mencari pakis, rebung melewati bukit-bukit dan 3 sungai selama 8 jam hanya untuk makan karena tak mampu membeli. Benar-benar kerja keras demi sesuap nasi.  Ibu hanya memasak ayam jika iIdul Fitri tiba, namun Ia hanya membeli 1 potong ayam yang dipotong kecil-kecil untuk sekeluarga. Dan makan daging juga hanya Idul Adha karena pembagian masjid. Dan aku baru tahu jika Sumi selama ini ingin sekali makan bakso. Boadi ingin sekali mencoba rasa biskuit. Jauh sekali dengan kehidupan di kota.

Matahari kembali bersinar. Aku, ibu dan bapak akan mengambil ramban (rumput) karena sejak semalam kambing di kandang kelaparan karena kelaparan. Mencari ramban untuk kambing juga bukanlah hal yang mudah seperti aku bayangkan sebelumnya. Memotong pohon Kelendra dengan arit besar susah sekali untuk ku. Belum lagi rasa gatal di tangan dan kaki digigit serangga. Ibu mengajari aku cara memegang arit yang benar dan memotong pohon Kelendra. Sekarang waktunya pulang, karena ramban sudah cukup untuk makan kambing hingga esok hari. Yeay.

Sesampainya di rumah bapak dan ibu kaget karena seekor sapi yang berada di belakang rumah. Ibu menangis karena tidak menyangka akan mendapat rezeki. Sapi untuk meringkan pekerjaan ibu dan bapak sekaligus sebagai tabungan untuk pendidikan Boadi dan Sumiyati. Sembako, perlengkapan sekolah baru, baju koko pertama untuk bapak, televisi, radio baru, lemari dan emas. Ya, selama aku tinggal bapak dan ibu mereka hanya mengetahui aku adalah mahasiswi yang sedang melakukan penelitian pada masyarakat desa. Mereka juga tidak mengetahui acara Jika Aku menjadi karena tidak memiliki televisi. Sehingga mereka sangat tidak menduga akan diberikan hadiah sebanyak itu. Untuk kamera, keberadaanya memang sudah diberitahukan untuk kepentingan liputan penelitian. Ibu menangis dipelukan ku. Baginya, anak yang baru ditemui telah memberikan segala apa yang diinginkannya selama ini. Kemudian aku izin untuk pulang ke Jakarta.  Tangis haru menghiasi perpisahan ku dengan keluarga bapak Sukip. Ibu mendoakan aku dan aku juga berdoa semoga ada kesempatan bisa bertemu dengan mereka lagi. Ya, suatu saat nanti.

Senin, 27 Desember 2010 di Trans TV

Terima kasih Trans TV telah memberikan kesempatan aku untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik :)

  • Reblog
  • Like
  • 1 Notes
  • blog comments powered by Disqus
  • Permalink
  • Share
  1. ikeys posted this

Full-time housewife, part-time co-ass, a member of Screen Seven. Share or ask me anything (click "ask me" button) or email: ikeyurissa@gmail.com